Menembus Tembus Ruang dan Waktu dalam Sepasang Kacamata

"Jangan bergerak dulu, biarkan mata kamu menyesuaikan diri," bisik teman saya saat ia memasangkan sebuah perangkat besar di kepala saya. Rasanya berat dan sedikit aneh, seperti memakai kacamata renang yang terlalu besar. Namun, begitu layar di dalam perangkat itu menyala, napas saya tertahan. Dalam sekejap, ruang tamu apartemen yang sempit itu hilang. Saya tidak lagi berpijak di atas karpet berdebu. Saya berdiri di tengah-tengah reruntuhan kota kuno di Yordania, Petra. Saya bisa melihat tekstur batu pasir yang kasar pada tebing-tebing tinggi di samping saya. Ketika saya mendongak, langit biru yang begitu luas seolah memeluk saya. Saya berputar 360 derajat, dan setiap sudutnya terasa nyata. Inilah Virtual Reality (VR). Teknologi yang selama ini saya kira hanya untuk anak kecil bermain video game, ternyata adalah sebuah "mesin empati". Minggu berikutnya, saya mencoba hal yang berbeda. Perangkat VR itu membawa saya masuk ke dalam simulasi laboratorium medis. Saya, yang sama sekali tidak punya latar belakang kedokteran, tiba-tiba memegang jantung manusia yang berdenyut di tangan saya (setidaknya, itulah yang dirasakan oleh mata dan tangan saya melalui sensor). Saya bisa melihat setiap katup bekerja, memahami bagaimana darah mengalir, dengan cara yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh buku anatomi setebal apa pun. Teknologi ini telah meruntuhkan tembok yang kita sebut "jarak". Bagi seorang kakek yang sudah tidak mampu lagi bepergian jauh, VR adalah tiket untuk mengunjungi kembali kampung halamannya di seberang samudra. Bagi seorang arsitek, VR adalah mesin waktu untuk berjalan di dalam gedung yang bahkan belum dibangun fondasinya. Tentu, ada rasa aneh saat saya melepas perangkat itu. Dunia nyata terasa sedikit terlalu sunyi dan datar setelah "bepergian" ke tempat-tempat ajaib. Namun, saya menyadari satu hal: VR bukan diciptakan untuk membuat kita kabur dari kenyataan. Ia diciptakan untuk memperkaya kenyataan kita. Ia memberikan kita kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain, mengunjungi tempat yang belum pernah kita injaki, dan belajar dengan cara yang melibatkan seluruh indra kita. Setelah hari itu, saya paham bahwa teknologi bukan lagi soal apa yang bisa kita lihat di layar, tapi soal ke mana teknologi itu bisa membawa jiwa kita pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sertifikat di Balik Piksel: Menemukan Makna Kepemilikan Digital

Pena, Kapur, dan Sepotong Kode Pintar