"Jangan bergerak dulu, biarkan mata kamu menyesuaikan diri," bisik teman saya saat ia memasangkan sebuah perangkat besar di kepala saya. Rasanya berat dan sedikit aneh, seperti memakai kacamata renang yang terlalu besar. Namun, begitu layar di dalam perangkat itu menyala, napas saya tertahan. Dalam sekejap, ruang tamu apartemen yang sempit itu hilang. Saya tidak lagi berpijak di atas karpet berdebu. Saya berdiri di tengah-tengah reruntuhan kota kuno di Yordania, Petra. Saya bisa melihat tekstur batu pasir yang kasar pada tebing-tebing tinggi di samping saya. Ketika saya mendongak, langit biru yang begitu luas seolah memeluk saya. Saya berputar 360 derajat, dan setiap sudutnya terasa nyata. Inilah Virtual Reality (VR). Teknologi yang selama ini saya kira hanya untuk anak kecil bermain video game, ternyata adalah sebuah "mesin empati". Minggu berikutnya, saya mencoba hal yang berbeda. Perangkat VR itu membawa saya masuk ke dalam simulasi laboratorium medis. Saya, ...
Komentar
Posting Komentar