Smartwatch yang Menyelamatkan Ayah Saya
Jika Anda bertanya kepada Ayah saya dua tahun lalu tentang jam tangan pintar, dia pasti akan tertawa. Baginya, jam tangan hanyalah alat untuk menunjukkan waktu, dan dia sudah cukup puas dengan jam analog tua yang melingkar di pergelangan tangannya selama puluhan tahun. "Untuk apa jam tangan harus diisi daya setiap malam seperti ponsel?" keluhnya saat itu.
Namun, segalanya berubah pada suatu Selasa sore yang tenang.
Saya memaksa Ayah mengenakan sebuah smartwatch sebagai hadiah ulang tahun. Alasannya sederhana: saya ingin bisa memantau aktivitas fisiknya karena usianya yang sudah kepala enam. Ayah menerimanya meski dengan sedikit gerutu.
Tiga bulan kemudian, sebuah keajaiban teknologi terjadi.
Ayah sedang berkebun di belakang rumah ketika tiba-tiba pergelangan tangannya bergetar hebat. Jam tangan itu mengeluarkan suara peringatan yang tajam. Di layarnya muncul tulisan: "Irama jantung tidak teratur terdeteksi (Atrial Fibrillation)." Tak lama setelah itu, jam tersebut bertanya apakah Ayah terjatuh karena sensor akselerometernya menangkap gerakan yang tidak wajar.
Awalnya Ayah merasa baik-baik saja, hanya sedikit pusing yang dia kira karena cuaca panas. Namun, karena peringatan itu terus muncul, kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
Dokter jantung yang memeriksa Ayah tampak terkejut. "Kalian datang di waktu yang sangat tepat," katanya. "Penyumbatan ini halus, tapi jika dibiarkan hingga besok, ceritanya bisa sangat berbeda."
Malam itu, saya duduk di samping tempat tidur rumah sakit, menatap jam tangan pintar yang tergeletak di meja nakas. Benda kecil yang terbuat dari kaca dan silikon itu bukan lagi sekadar gadget keren atau tren gaya hidup bagi kami. Ia telah menjadi penjaga rahasia yang bekerja dalam diam, memindai detak jantung, menghitung langkah, dan memantau kadar oksigen dalam darah saat kita tidur terlelap.
Kini, teknologi wearable telah mengubah cara keluarga kami memandang kesehatan. Kami tidak lagi menunggu sampai jatuh sakit untuk pergi ke dokter. Teknologi telah memberi kami "indra keenam"—kemampuan untuk mengintip apa yang terjadi di dalam tubuh kita secara real-time.
Ayah saya sekarang tidak pernah melepas jam tangannya, kecuali saat diisi daya. Dia tidak lagi mengeluh soal baterainya. Karena bagi Ayah, mengisi daya jam tangan selama satu jam adalah harga yang sangat kecil dibandingkan dengan waktu tambahan yang diberikan teknologi itu untuknya terus melihat cucu-cucunya tumbuh besar.
Komentar
Posting Komentar